Selamat Sepuluh,Pak Suami!

Ini sebenernya postingan yang rada telat. Jadi tgl 6 Juni kemaren kita pas 10 tahun menikah. Satu dasawarsa! Tsahhh.. apa rasanya 10 tahun hidup bareng laki-laki yang sama?tidur liatnya dia,bangun ada dia lagi..sebenernya sih ga spektakuler gimana gitu cuma setelah dipikir dan didalami..sepuluh tahun tuh sesuatu juga yaa..apalagi dengan maraknya berita perceraian di tv atau bahkan orang-orang di sekitar kita.

Marriage is a hard work. I totally agree. Waktu pacaran kan nothing to lose, kalo berantem atau ga cocok atau ga happy tinggal minta putus. Simple. Pas udh nikah ya ngga mungkin begitu. Ada ikatan yang ga terlihat tapi harus dipertanggungjawabkan langsung ke Tuhan. Being married is a true test to our personality. Kita bisa ngga nunjukin diri kita apa adanya, jeleknya,bagusnya, tanpa harus takut ga diterima sama pasangan.
Gw dan Wisnu pacaran kurleb 4  tahun sebelum memutuskan menikah. Jadi kalo ditotal gw dan Wisnu sdh barengan selama 14 tahun. Bahkan untuk ukuran 10 tahun yang lalu, usia gw yang baru 24 tahun dibilang cukup muda untuk menikah. Pada saat itu, kita berdua merasa sdh cocok dan siap, sudah merencanakan semuanya, gw yang ambil profesi,wisnu yang kerja. Sempet mikir, ga nunda sih tp kalo boleh hamilnya pas udah selesai kuliah. Eyaampun, dikabulin dong sama Allah, ga hamil sampe..6 tahun kemudian. Zzzzzzz…

Kalo diinget..6 tahun nikah dan harus nunggu hamil rasanya lumayan stress. 2 tahun pertama sih masih (rada) santai karena masih bisa pake alasan kuliah. Begitu selesai kuliah dan kerja..mulai deh gelisah. Kok ga hamil-hamil juga nih yaa? Alhamdulillah kita berdua cukup tenang dan kompak, isu ga hamil-hamil ini ga pernah sekalipun jadi penyebab ribut. Kita ga pernah salah-salahan, kita berdua haqul yakin kalo suatu hari nanti akan ada saatnya untuk kita. Keluarga besar juga untungnya ga panik nanya-nanya.

Dipikir-pikir, 6 tahun menunggu itu jadi ujian untuk kita berdua sebagai suami-istri, ujian sabar, ujian saling menerima, saling menguatkan. Usaha untuk hamil kan lumayan juga, ke sejumlah dokter, sinshe, mbah pijet, tukang refleksi. Belum lagi bolak-balik tes ini itu, tes darah, tes alergi, tes sperma :p. Wisnu tuh untung bukan tipe laki-laki gede gengsi, mau aja dia disuruh tes sperma berkali-kali, sampe dia bisa bikin komparasi ruang pengambilan sampel sperma di beberapa rumah sakit dan klinik. Huahaha..He always saw it from a funny point of view *kecup wisnu*.
Yang bikin sering sedih dan down adalah pikiran gimana kalo kita memang ngga dikasih keturunan? Who would take care of us when we get older?waktu itu sedihhh banget kalo kepikiran.

The rest of the story is Danish came along almost 4 years ago. A bright star in our universe. A little man who turns our life around. Allah ternyata sayang banget sama kita, Sofia happens. We are so very blessed.

Sekarang, 10 tahun dan terus bertahan. Bukannya jadi lebih mudah, justru lebih menantang karena ada 2 bocah yang jadi tanggung jawab kita. Alhamdulillahnya kita berdua kayanya dikasih kekuatan untuk bisa lebih menerima masing-masing apa adanya. Gw dengan segala kebawelan dan kerempongan, Wisnu dengan kelempengannya dia. He turns out to be a great Bapak for Danish and Sofia.

A secret to a happy marriage remains a secret. For us, just keep expectations at moderate level then we’ll be okay🙂

Pak Suami, makasih yaa untuk 10 tahun yang ada sedihnya, ada keselnya, marahnya..tapi we’ve never been happier than right now. I love you loads!

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s