Crossroad.

Layaknya bepergian, saat ini saya sedang di persimpangan. Saya harus memutuskan akan mengambil jalan yang mana. Sesungguhnya hati kecil saya sudah punya jawabannya, hanya keberanian untuk melakukannya yang masih belum ada. Ini bicara apa ya?ngga lain dan ngga bukan, soal pekerjaan. Bukan dilema memilih dua pekerjaan, tapi memilih untuk berhenti bekerja atau tidak.
Saat ini danish sudah hampir 2 tahun, banyak hal yang kini menjadi kekhawatiran saya. Banyak sekali PR saya dan bapaknya yang belum dikerjakan sama sekali. Saya rasa semua orangtua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, kami pun demikian. Kebutuhan Danish tidak hanya berhenti pada makan, pakaian, dan mainan. Kebutuhan psikologisnya juga sama pentingnya, dia butuh diperhatikan, distimulasi, dan disayangi secara fisik.
Sejauh ini, kami belum mampu memberikannya secara penuh. Waktu kami berdua dalam sehari habis di kantor, ketika pulang kerja paling banyak hanya 2-3 jam sebelum Danish tidur. Pada saat weekend tentunya juga tidak cukup menambal kekurangan waktu pada saat weekdays.

Banyak yang bilang, “orangtua lain bisa tuh bekerja dan anaknya baik-baik saja”. Mungkin iya. Tapi apa iya baik-baik saja? Semua keputusan dan perilaku kita sebagai orang tua PASTI berpengaruh pada tumbuh kembang anaknya. Bagaimana pengaruhnya tentu saja kembali pada dinamika tiap keluarga. Begitu juga dalam keluarga kecil kami. Sejauh ini, perkembangan Danish masih sesuai tahap perkembangannya. Tapi untuk ke depannya, butuh lebih dari 2-3 jam sehari bersama orangtuanya untuk mengoptimalkan perkembangan Danish. Saya dan suami bertekad akan membuka seluas-luasnya kesempatan kepada Danish untuk mengeksplorasi dirinya. He can be anything that he loves and is passionate about. Therefore, we need to be there for him along the way. Kenapa saya?karena saya ibunya dan my heart tells me i should be there for him. Maybe he won’t need me all the time in his life. But he needs me now.

Saya ngga bisa jawab ketika ada yang bertanya, “ngga nyesel ngelepasin kerjaan, jabatan, dan gaji?”. Bahkan orang tua saya juga menanyakan hal yang sama. Saya ngga bisa jawab apakah akan menyesal atau tidak, tapi saya yakin saya harus mengambil keputusan ini, pada saat ini. Pada setiap tahap kehidupan, setiap orang harus menentukan prioritas tindakan yang akan dilakukan. Mungkin secara intuitif saya ada pada tahap dimana saya tidak bisa menomorsekiankan Danish, apapun alasannya.

Saya tertegun membaca penggalan pidato Steve Jobs yang baru meninggal 2 hari yang lalu. Ia bilang, “our time is limited, follow your heart”. Sebenarnya lebih panjang kutipannya, tapi kurang lebihnya seperti itu. Waktu saya, Danish, dan bapaknya sangat terbatas. Tanpa disadari, Danish akan dewasa dan saya tidak mau lima atau sepuluh tahun dari sekarang tiba-tiba menyesal kenapa tidak memberikan apa yang paling dibutuhkannya, waktu.

So, here I am in a crossroad. I already know which road to take, the road home. Bismillah.πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s